Sejarah Tahun Baru Hijriah Sekaligus Dalilnya

Sejarah tahun hijriah bermula enam tahun setelah wafatnya Rasulullah, dalam satu riwayat menyebutkan, yaitu ketika Khalifah Umar mendapat surat balasan yang mengkritik bahwa suratnya dikirim tanpa ada angka (hari, tanggal dan tahun). Beliau lalu bermusyawarah dengan para sahabat. Singkat cerita, para sahabat berijma’ untuk menjadikan momentum Hijrahnya Rasulullah sebagai awal perhitungan awal tahun dalam Islam.

Sejarah tersebut juga berkaitan erat dengan peristiwa Hijrah yang menjadi momentum di mana umat Islam secara resmi keberadaannya diakui oleh negara lain. Memiliki sistem undang-undang, mempunyai pemerintahan resmi dan dapat duduk sejajar bersanding dengan negara lain. Sejak saat itu juga, hukum-hukum Islam mulai diberlakukan, seperti hukum qishah. Hukum warisan dan hudud, seperti memotong tangan pencuri, merajam/mencambuk pelaku zina dan lain sebagainya.

Makna Tahun Baru

Peringatan tahun baru Hijriah yang menjadi pemandangan resmi di beberapa daerah terutama Indonesia, lebih menggambarkan sebagai ritual yang kaku. Kendati merupakan tradisi yang cukup mengesankan, yaitu meneladani semangat Hijrah Rasulullah. Namun tampaknya kesulitan untuk menerapkan dan meneladani semangat Hijrah Nabi.

Tahun baru Hijriah menjadi satu pelajaran penting yang seolah tertutup oleh hingar bingar perayaan tahun baru Masehi. Bahkan sudah menjadi tradisi untuk dirayakan secara meriah. Padahal dalam perayaan tahun baru Hijriah banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil dari peristiwa Hijrahnya Nabi. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi.

Beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari tahun baru Hijriah adalah sebagai berikut. Pertama, tahun baru Hijriah merupakan awal tonggak sejarah kebangkitan Islam yang semula umat Islam di Makkah dalam situasi ketakutan, tersiksa dan terhina, menuju suasana yang gembira dan merdeka di Madinah. Di Madinah Rasulullah mulai membangun sendi-sendi Syariat Islam, agar bukan hanya dikatakan sebagai negara Islam saja, tapi negara Islam yang berdiri kokoh dengan undang-undang Allah.

Baca Juga: Dakwah Islam Mengaca kepada Nabi Muhammad

Kedua, semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi, yaitu Hijrah dari hal buruk menuju pada hal baik, dari hal yang baik pada yang lebih baik. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Tajrid as-Sharih karangan Imam Zainuddin Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif:

عن عبدالله بن عمرو عن النبي قال: ألمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِهِ, وَالْمُهَاجِرُ مَن هَاجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ. رواه البخاري.

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah berkata: Muslim sejati adalah yang kaum Muslimin lainnya selamat lisan dan tangannya. Dan orang yang Hijrah adalah yang meninggalkan perkara yang diharamkan oleh Allah” (HR. Bukhari).

Rasulullah dan para sahabat telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara dan harta benda demi kata merdeka.

Ketiga, semangat persaudaraan dan mempererat hubungan Sahabat Muhajirin dan Sahabat Anshar. Bahkan Rasulullah menjalin hubungan baik bersama orang Yahudi yang hidup di Madinah.

Instropeksi Diri

Memasuki tahun baru Hijriah berarti meninggalkan tahun lalu. Tidak sepantasnya merayakan seperti tahun baru Masehi yang biasa diisi dengan hal-hal yang berbau maksiat. Salah satu sasaran kritik adalah masuknya nilai-nilai yang tidak dianggap sejajar dengan makna Hijrah, yaitu mengisi acara tahun baru Hijriah dengan mendatangkan penyanyi dan acara hura-hura.

Sangat penting untuk berkaca diri, menimbang amalan-amalan yang kita lakukan di tahun kemarin untuk hidup lebih baik dari tahun kemarin. Oleh karena itu, kita para pelaku sejarah masa depan, tentu sangat memerlukan pemahaman, penghayatan, sekaligus penerapan Hijrahnya Nabi sebagai penerang. Lalu apa jadinya jika sejarah diceritakan sebagai cerita yang menghebohkan dan menkajubkan, namun tidak ada penerapan dari pelaku sejarah masa depan? Wallahu a’lamu bi shawab

Tinggalkan komentar